Memoar Hitam Malam
Kota itu harusnya terang ketika malam,
Namun di kotaku cuma ada hitam
Listrik tak bergerak, mati
Kota-kotaku seperti kota mati
Hitam, Gelam, Gelap, Pengap
Aku bingung dengan jiwa negeri ini
Rakyat berteriak lantang
Mereka kelaparan
Namun ketika 5 tahun itu datang
Mereka memilih yang cukup membuat sehari kenyang
Dalam 4 tahun kelaparan
Negeri ini adalah negeri pincang
Negeri dibalut awan-awan kelam
Negeri dengan pemimpin yang berhati keruh
Sekeruh rakyat ini
: Pemimpin adalah cerminan rakyat
Banda Aceh, 23 Januari 2009 – 8:00 WIB
Bertanya, sebegini besar bangsa mengapa masih mati lampu?

salam super-
salam hangat dari Pulau bali -
Negeri ini adalah negeri pincang
saya suka dengan kalimat ini….
andry sianipar
28 Januari 2010 pada 2:31 pm
saya akan bangkit, setidaknya mulai dari diri saya sendiri. >:(
piko
30 Januari 2010 pada 8:27 am
saya suka puisinya,kak
manteeepp!
andyhardiyanti
8 Februari 2010 pada 7:26 pm
saya selalu suka berkunjung kemari
membaca sajak yang berima
ato mengalir sesuai cerita
geram berisi mencaci
riang hangat damai asri
ada rasa puas tersendiri
*halah saya ndak pinter buat sajak, pokoknya keren lah punya mas jiwa ini,
ahhhh, cari inspirasi posting sajak di blog saya
keep writing mas
fara
15 Februari 2010 pada 9:29 am
masih menunggu sajak terbarunya jiwa membumi
ZzzzzZZZZzZzzzZZzzzzZzZZZzZZZZZzzzzzzZZZZZZzZZZZZZzz
fara
20 Februari 2010 pada 12:26 pm